Selasa, 03 Mei 2011

Kini Styrofoam Aman bagi Kesehatan

Alan, 44 tahun, mewanti-wanti istrinya agar tidak membeli makanan di sebuah warung. Alasannya, warung tersebut menggunakan styrofoam sebagai kemasannya. "Daripada membahayakan kesehatan," ujarnya.

Ketakutan akan dampak kesehatan memang sering menjadi alasan utama orang enggan membeli makanan dalam kemasan styrofoam. Selama ini, sejumlah penelitian banyak yang mengaitkan penggunaan styrofoam sebagai penyebab munculnya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia. Bahan dasar styrofoam juga diyakini bersifat karsinogen atau bisa memicu kanker.

Namun, kini ada kabar baik dari para pengusaha polystyrene atau styrofoam. Mereka mengklaim sejumlah produsen styrofoam sudah menambahkan zat oxium dalam produksinya. "Zat tambahan bernama oxium ini mampu mempercepat penguraian plastik dan styrofoam," ujar Sri Bebassari, Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA).

Selain ramah lingkungan, oxium juga diklaim sudah memenuhi standar keamanan makanan. "Oxo-degradable polystyrene atau styrofoam dengan oxium ini terbukti aman sebagai kemasan pangan yang memenuhi regulasi BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)," kata Sugianto Tandio, Presiden Direktur PT Tirta Marta Indonesia, yang memproduksi styrofoam.
Berkebalikan dengan itu, Roy Sparringa, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, mengatakan pihaknya masih mengecek hal tersebut. Sebelumnya, badan ini sudah mengeluarkan kebijakan tentang bahan kemasan pangan. "Ini, kan, nama dagang. Kami belum tahu bahan aktifnya. Tentu kami melihat bahan aktif dan batasannya," ujarnya saat dihubungi Tempo, Senin, 2 Mei 2011.

Menurut Roy, setiap kemasan sudah punya aturan soal batas migrasi partikelnya. Jika melebihi ambang batas, BPOM ini akan menarik kemasan tersebut. Namun, kata dia, sejauh ini kemasan styrofoam itu masih memenuhi persyaratan.

Roy mengungkapkan umumnya kemasan makanan ini akan bereaksi terhadap suhu, lama waktu migrasi, kontak makanan dan unsur minyak. "Makin panas, makin lama dan berminyak juga akan makin besar migrasinya," ujarnya.

Ahli penyakit dalam dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa penggunaan styrofoam tetap harus diwaspadai karena memang terbukti dapat mengganggu kesehatan. Apalagi bila terkontak dengan makanan bersuhu tinggi (panas) atau berminyak. "Molekul-molekul styrofoam akan pindah ke makanan," ujar Aru melalui surat elektroniknya.

Menurut Sugianto, polystyrene yang telah ditambahkan oxium juga telah melewati tes migrasi yang dilakukan di Balai Besar Kimia dan Kemasan Jakarta. Hasilnya, tidak ditemukan elemen racun dalam oxium. Berdasarkan standar RoHS 2006 (hasil pengujian Sentra Teknologi Polimer), oxium juga aman untuk lingkungan.

PT Tirta Marta Indonesia adalah perusahaan yang memelopori penggunaan oxium di Indonesia. "Karena Kementerian Lingkungan Hidup belum punya mekanisme sertifikat green label, sementara kami yang memberikan. PT Tirta juga menjadi pelopor penemuan oxium yang 100 persen merupakan karya anak bangsa," ujar Sri.

Oxium tidak akan mencemari lingkungan. Menurut Sugianto, penambahan oxium sebanyak 5 persen dapat mempercepat degradasi styrofoam untuk makanan dan plastik. Waktu penguraian yang biasanya 500 tahun dapat diperpendek menjadi 2 tahun untuk plastik dan 4 tahun untuk styrofoam. Tentu berbeda-beda, tergantung bantuan sinar ultraviolet, panas, cahaya, dan oksigen.

Saat ini, baru satu perusahaan makanan cepat saji yang menggunakan styrofoam ber-oxium. "Sebenarnya proses degradasi bisa dilakukan secara cepat. Tapi, kami juga harus meneliti segi ekonominya," ujar Sugiarto.

Segi ekonomi ini pulalah yang membuat para pengusaha plastik yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Polystyrene Indonesia baru bisa mendaur ulang sampah plastik setelah terkumpul secara kolektif. "Karena biayanya akan mahal jika dilakukan satu per satu," ujar Ketua Asosiasi Boni Plando, saat konferensi pers "Greener Living with Oxo-Polystyrene", Selasa, 26 April 2011 lalu.
Dewasa ini, setiap hari warga Jakarta membuang sampah sebanyak 6.000 ton. Sekitar 44,63 persen di antarnya adalah sampah yang sulit terurai. Sampah plastik serta sampah kertas sendiri berkisar 900 ton. Padahal, plastik memiliki karakter yang baru dapat terurai sekitar 500 tahun kemudian. Penemuan zat baru ini tentu akan menggembirakan jika terbukti benar-benar aman untuk kesehatan dan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar