PLASTIK, banyak orang tidak menyadari segala bentuk polusi dan bahayanya menggunakan kantong plastik dan botol. Akibat sistem pembuangan sampah yang tidak benar, banyak hewan liar akhirnya memakan plastik yang akhirnya menyebabkan kematian mereka.
Juga selama hujan, plastik yang jatuh di jalan akan tersapu ke dalam reservoir air di dekatnya dan bahkan mengalir ke saluran air. Plastik yang mengalir di blok drainase air menyediakan tempat penampungan bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Seperti kita semua tahu bahwa hanya 1% dari air di bumi adalah air minum, dan air tersebut segera tercemar karena pembuangan limbah plastik. Plastik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai dan selama proses dekomposisi, ia melepaskan beberapa zat kimia beracun seperti styrene trimer, bisphenol A dan dengan produk polystyrene.
Bisphenol A adalah bahan kimia berbahaya yang merusak sistem reproduksi hewan. Pembuangan plastik di lautan mempengaruhi baik hewan laut dan juga burung laut seperti dikutip buzzle.com.
Setelah bertahun-tahun, plastik melepaskan zat kimia berbahaya dan juga terurai menjadi potongan-potongan kecil lalu dimakan ikan lalu mati karena keracunan. Tubuh ikan pasti membusuk dan disantap ikan lain sementara plastik yang dikonsumsi ikan tersebut sebelumnya akan tetap menjadi ancaman untuk hewan laut lainnya. Spesies laut juga kadang terjerat dalam lapisan plastik, akibat bentukan dumping limbah plastik dalam air.
Juga angin membawa deposit plastik dari satu tempat ke tempat lain, mengotori tanah. Hal ini juga terjebak pada pagar, pohon dan badan air. Setiap hewan yang datang di sekitar plastik, bahkan mungkin akan kusut dan tercekik sampai mati.
Solusi
Meskipun komoditas plastik saat ini berguna, namun sekaranglah saatnya menyadari bahayanya bagi kehidupan di muka bumi. Plastik adalah salah satu unsur utama yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan memberi kontribusi besar dalam peningkatan angka kematian makhluk hidup.
Beradaptasi dengan perubahan positif, mungkin tidak selalu mudah, namun efeknya selalu baik dan aman. Untuk membawa penurunan penggunaan plastik, pergeseran untuk menggunakan kantong kertas atau kain untuk berbelanja bahan makanan dan menghindari membawa kantong plastik di rumah. Jika orang mengambil inisiatif untuk menggunakan tas sendiri, pemilik toko juga akan memberi kantong kertas.
Gunakan bak sampah untuk menjaga lingkungan bebas dari plastik. Ini akan melindungi hewan dan mengurangi penumpukan sampah. Tidak ada cara untuk menyingkirkan plastik seperti dibakar malahan akan mencemari udara dan menyebabkan masalah pernapasan pada manusia. Plastik yang dibuang dapat didaur ulang dan digunakan dalam berbagai cara seperti tas jinjing, dompet atau kantung. Ada tas plastik yang biodegradable tersedia yang dapat mengurangi masalah pencemaran plastik.
Perubahan ini mungkin bertahap dan bahkan tampak mikro terhadap masalah pencemaran besar plastik, tetapi mengambil langkah-langkah kecil tersebut dapat berkontribusi untuk mengurangi polusi plastik. Seperti artikel ini telah menunjukkan dampak polusi plastik, sekarang saatnya untuk mengambil beberapa langkah pencegahan untuk menghentikannya dan membuat hidup lebih baik bagi generasi mendatang.
plastik
Selasa, 03 Mei 2011
Kini Styrofoam Aman bagi Kesehatan
Alan, 44 tahun, mewanti-wanti istrinya agar tidak membeli makanan di sebuah warung. Alasannya, warung tersebut menggunakan styrofoam sebagai kemasannya. "Daripada membahayakan kesehatan," ujarnya.
Ketakutan akan dampak kesehatan memang sering menjadi alasan utama orang enggan membeli makanan dalam kemasan styrofoam. Selama ini, sejumlah penelitian banyak yang mengaitkan penggunaan styrofoam sebagai penyebab munculnya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia. Bahan dasar styrofoam juga diyakini bersifat karsinogen atau bisa memicu kanker.
Namun, kini ada kabar baik dari para pengusaha polystyrene atau styrofoam. Mereka mengklaim sejumlah produsen styrofoam sudah menambahkan zat oxium dalam produksinya. "Zat tambahan bernama oxium ini mampu mempercepat penguraian plastik dan styrofoam," ujar Sri Bebassari, Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA).
Selain ramah lingkungan, oxium juga diklaim sudah memenuhi standar keamanan makanan. "Oxo-degradable polystyrene atau styrofoam dengan oxium ini terbukti aman sebagai kemasan pangan yang memenuhi regulasi BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)," kata Sugianto Tandio, Presiden Direktur PT Tirta Marta Indonesia, yang memproduksi styrofoam.
Berkebalikan dengan itu, Roy Sparringa, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, mengatakan pihaknya masih mengecek hal tersebut. Sebelumnya, badan ini sudah mengeluarkan kebijakan tentang bahan kemasan pangan. "Ini, kan, nama dagang. Kami belum tahu bahan aktifnya. Tentu kami melihat bahan aktif dan batasannya," ujarnya saat dihubungi Tempo, Senin, 2 Mei 2011.Menurut Roy, setiap kemasan sudah punya aturan soal batas migrasi partikelnya. Jika melebihi ambang batas, BPOM ini akan menarik kemasan tersebut. Namun, kata dia, sejauh ini kemasan styrofoam itu masih memenuhi persyaratan.
Roy mengungkapkan umumnya kemasan makanan ini akan bereaksi terhadap suhu, lama waktu migrasi, kontak makanan dan unsur minyak. "Makin panas, makin lama dan berminyak juga akan makin besar migrasinya," ujarnya.
Ahli penyakit dalam dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa penggunaan styrofoam tetap harus diwaspadai karena memang terbukti dapat mengganggu kesehatan. Apalagi bila terkontak dengan makanan bersuhu tinggi (panas) atau berminyak. "Molekul-molekul styrofoam akan pindah ke makanan," ujar Aru melalui surat elektroniknya.
Menurut Sugianto, polystyrene yang telah ditambahkan oxium juga telah melewati tes migrasi yang dilakukan di Balai Besar Kimia dan Kemasan Jakarta. Hasilnya, tidak ditemukan elemen racun dalam oxium. Berdasarkan standar RoHS 2006 (hasil pengujian Sentra Teknologi Polimer), oxium juga aman untuk lingkungan.
PT Tirta Marta Indonesia adalah perusahaan yang memelopori penggunaan oxium di Indonesia. "Karena Kementerian Lingkungan Hidup belum punya mekanisme sertifikat green label, sementara kami yang memberikan. PT Tirta juga menjadi pelopor penemuan oxium yang 100 persen merupakan karya anak bangsa," ujar Sri.
Oxium tidak akan mencemari lingkungan. Menurut Sugianto, penambahan oxium sebanyak 5 persen dapat mempercepat degradasi styrofoam untuk makanan dan plastik. Waktu penguraian yang biasanya 500 tahun dapat diperpendek menjadi 2 tahun untuk plastik dan 4 tahun untuk styrofoam. Tentu berbeda-beda, tergantung bantuan sinar ultraviolet, panas, cahaya, dan oksigen.
Saat ini, baru satu perusahaan makanan cepat saji yang menggunakan styrofoam ber-oxium. "Sebenarnya proses degradasi bisa dilakukan secara cepat. Tapi, kami juga harus meneliti segi ekonominya," ujar Sugiarto.
Segi ekonomi ini pulalah yang membuat para pengusaha plastik yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Polystyrene Indonesia baru bisa mendaur ulang sampah plastik setelah terkumpul secara kolektif. "Karena biayanya akan mahal jika dilakukan satu per satu," ujar Ketua Asosiasi Boni Plando, saat konferensi pers "Greener Living with Oxo-Polystyrene", Selasa, 26 April 2011 lalu.
Dewasa ini, setiap hari warga Jakarta membuang sampah sebanyak 6.000 ton. Sekitar 44,63 persen di antarnya adalah sampah yang sulit terurai. Sampah plastik serta sampah kertas sendiri berkisar 900 ton. Padahal, plastik memiliki karakter yang baru dapat terurai sekitar 500 tahun kemudian. Penemuan zat baru ini tentu akan menggembirakan jika terbukti benar-benar aman untuk kesehatan dan lingkungan.
Waspadai Bahaya Plastik Kemasan
Sejumlah plastik kemasan makanan mengandung zat kimia yang memicu penyakit berbahaya.
Sejumlah penelitian mengungkap banyaknya makanan sekaligus kemasannya yang berbahaya bagi kesehatan. Terbaru, dilakukan peneliti asal Amerika Serikat, Adam J Spanier, yang menemukan dampak buruk zat kimia pada kemasan plastik makanan terhadap pernapasan bayi.
Seperti dilansir dari laman Daily Mail, penelitian itu menunjukkan bahwa ibu hamil dengan tingkat bisphenol A tinggi dalam tubuh memiliki risiko dua kali lebih besar memiliki bayi menderita masalah pernapasan dalam
enam bulan pertama. Bayi mereka berisiko mengalami kerusakan paru-paru, asma, bronkhitis, dan alergi.
Bisphenol A atau BPA biasa digunakan untuk mengeraskan plastik, dan menjadi salah satu zat kimia yang diproduksi massal. Zat kimia ini dapat dengan mudah ditemukan pada produk-produk seperti botol susu
bayi, tempat CD, makanan, dan kemasana makanan.
Zat kimia ini sangat mirip dengan hormon estrogen. Karenanya, banyak ilmuwan percaya bahwa zat ini dapat menggangu produksi hormon di dalam tubuh.
Meskipun beberapa percobaan pada hewan menunjukkan bahwa BPA aman bagi tubuh, penelitian lainnya mengatakan bahwa BPA dapat menyebabkan kanker payudara, kerusakan hati, obesitas, diabetes,
dan masalah kesuburan.
Dalam penelitiannya, Spanier melihat tingkat BPA pada 367 wanita hamil. Penelitian di Penn State College of Medicine ini mengukur tingkat zat kimia pada ibu hamil pada usia kandungan minggu ke-16 dan 26.
Mereka menemukan, 99 persen wanita tercemar bahan kimia di tubuh mereka. Mereka dengan kadar BPA tinggi pada minggu ke-16 memiliki risiko mendapatkan bayi dengan masalah pernapasan pada enam bulan
pertama, dua kali lebih besar dibandingkan wanita yang hanya memiliki kadar BPA rendah.
Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa konsentrasi BPA yang tinggi pada minggu ke-26 dan pada saat kelahiran tidak berhubungan dengan kondisi tersebut.
Beberapa peneliti menganggap bahwa zat kimia yang dapat mengacaukan hormon tersebut lebih berbahaya pada masa awal kehamilan. Mereka juga menganjurkan bagi wanita usia subur untuk menghindari produk yang
mengandung BPA.
"Penelitian baru ini menambahkan alasan untuk mengurangi pemakaian zat kimia tersebut pada kemasan, terutama untuk wanita hamil," ujar Elizabeth Salter Green, directur Chemicals, Health and Environment
Monitoring Trust. Hal ini dikarenakan perkembangan janin dalam rahim sangat rentan pada BPA.
Tahun lalu, Denmark menjadi negara pertama di Uni Eropa yang melarang penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman, sedangkan Uni Eropa sudah melarang penggunaan BPA pada botol susu tahun lalu. Kanada dan tiga negara bagian AS pun telah memberlakukan pembatasan.
Sejumlah penelitian mengungkap banyaknya makanan sekaligus kemasannya yang berbahaya bagi kesehatan. Terbaru, dilakukan peneliti asal Amerika Serikat, Adam J Spanier, yang menemukan dampak buruk zat kimia pada kemasan plastik makanan terhadap pernapasan bayi.
Seperti dilansir dari laman Daily Mail, penelitian itu menunjukkan bahwa ibu hamil dengan tingkat bisphenol A tinggi dalam tubuh memiliki risiko dua kali lebih besar memiliki bayi menderita masalah pernapasan dalam
enam bulan pertama. Bayi mereka berisiko mengalami kerusakan paru-paru, asma, bronkhitis, dan alergi.
Bisphenol A atau BPA biasa digunakan untuk mengeraskan plastik, dan menjadi salah satu zat kimia yang diproduksi massal. Zat kimia ini dapat dengan mudah ditemukan pada produk-produk seperti botol susu
bayi, tempat CD, makanan, dan kemasana makanan.
Zat kimia ini sangat mirip dengan hormon estrogen. Karenanya, banyak ilmuwan percaya bahwa zat ini dapat menggangu produksi hormon di dalam tubuh.
Meskipun beberapa percobaan pada hewan menunjukkan bahwa BPA aman bagi tubuh, penelitian lainnya mengatakan bahwa BPA dapat menyebabkan kanker payudara, kerusakan hati, obesitas, diabetes,
dan masalah kesuburan.
Dalam penelitiannya, Spanier melihat tingkat BPA pada 367 wanita hamil. Penelitian di Penn State College of Medicine ini mengukur tingkat zat kimia pada ibu hamil pada usia kandungan minggu ke-16 dan 26.
Mereka menemukan, 99 persen wanita tercemar bahan kimia di tubuh mereka. Mereka dengan kadar BPA tinggi pada minggu ke-16 memiliki risiko mendapatkan bayi dengan masalah pernapasan pada enam bulan
pertama, dua kali lebih besar dibandingkan wanita yang hanya memiliki kadar BPA rendah.
Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa konsentrasi BPA yang tinggi pada minggu ke-26 dan pada saat kelahiran tidak berhubungan dengan kondisi tersebut.
Beberapa peneliti menganggap bahwa zat kimia yang dapat mengacaukan hormon tersebut lebih berbahaya pada masa awal kehamilan. Mereka juga menganjurkan bagi wanita usia subur untuk menghindari produk yang
mengandung BPA.
"Penelitian baru ini menambahkan alasan untuk mengurangi pemakaian zat kimia tersebut pada kemasan, terutama untuk wanita hamil," ujar Elizabeth Salter Green, directur Chemicals, Health and Environment
Monitoring Trust. Hal ini dikarenakan perkembangan janin dalam rahim sangat rentan pada BPA.
Tahun lalu, Denmark menjadi negara pertama di Uni Eropa yang melarang penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman, sedangkan Uni Eropa sudah melarang penggunaan BPA pada botol susu tahun lalu. Kanada dan tiga negara bagian AS pun telah memberlakukan pembatasan.
Langganan:
Postingan (Atom)